ANGKET24.ID, JAKARTA — Kementerian Agama Republik Indonesia memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 sebagai momentum penguatan kinerja dan refleksi peran strategis lembaga keagamaan dalam menjawab dinamika zaman.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya transformasi dan peningkatan kinerja agar Kementerian Agama tetap relevan serta mampu merespons berbagai tantangan sosial, budaya, dan keagamaan yang terus berkembang.
“Kementerian Agama tidak boleh ketinggalan zaman. Artinya, agama harus tetap aktual hingga kapan pun. Ini menjadi bagian dari tanggung jawab Kementerian Agama,” ujar Menag usai upacara peringatan HAB ke-80 di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, pembaruan pendekatan dalam penyampaian dan pemahaman keagamaan perlu terus dilakukan agar nilai-nilai ajaran agama tetap hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Nilai dan pemahaman keagamaan tidak boleh tertinggal oleh zaman, termasuk dalam cara menampilkan diri. Kementerian Agama bertanggung jawab mengaktualkan nilai-nilai ajaran agama. Nilai-nilai itu harus tetap relevan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” lanjutnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Menag menyampaikan bahwa Kementerian Agama tetap mampu menghadirkan program-program yang berdampak langsung, khususnya di sektor pendidikan keagamaan. Ia mencontohkan capaian madrasah unggulan sebagai bukti kualitas layanan yang terus terjaga.
“Madrasah unggulan kita belum tertandingi oleh sekolah lain di luar Kementerian Agama. Padahal, ada sekolah-sekolah yang anggarannya jauh lebih besar. Ini menunjukkan Kementerian Agama mampu membangun kualitas secara positif meskipun dengan keterbatasan,” ujarnya.
Menag juga menyoroti peran penting Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan umat beragama, yang dinilai menjadi fondasi utama bagi stabilitas sosial dan pembangunan nasional.
“Indeks kerukunan umat beragama kita berada pada posisi tertinggi. Tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan capaian ini. Tanpa kerukunan, kemajuan ekonomi dan teknologi tidak akan memiliki arti,” tuturnya.
Selain itu, Menag menegaskan kehadiran Kementerian Agama dalam penanganan persoalan kemanusiaan, termasuk pendampingan masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra.
“Kami tidak hanya hadir melalui bantuan materi. Kementerian Agama juga melakukan pendampingan dan penguatan spiritual. Kami ingin membantu masyarakat melihat musibah sebagai ujian yang harus dihadapi bersama,” pungkasnya. (Wahyu)












