ANGKET24.ID, TANGERANG – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tangerang, R. Herwanto, menyoroti keberadaan oknum yang mengatasnamakan wartawan dan kerap menimbulkan keresahan di lingkungan sekolah. Pernyataan tersebut disampaikan Herwanto dalam pertemuan tidak resmi bersama Wali Kota Tangerang, Sachrudin pada Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, praktik-praktik tersebut tidak mencerminkan kerja jurnalistik dan berpotensi merugikan dunia pendidikan. Herwanto menegaskan, tidak semua pihak yang datang mengaku wartawan bekerja sesuai kaidah pers. Karena itu, kepala sekolah diminta lebih cermat dan tidak serta-merta menilai seluruh wartawan dengan sudut pandang yang sama.
“Wartawan bekerja untuk mencari informasi dan melakukan konfirmasi. Kalau caranya sudah menekan, apalagi membawa-bawa ancaman atau permintaan tertentu, itu jelas bukan kerja jurnalistik,” kata Herwanto.
Ia menjelaskan, pola kerja wartawan profesional dapat dilihat dari cara berkomunikasi dan tujuan kedatangan. Wartawan, lanjutnya, fokus pada data, kegiatan, dan kebijakan sekolah, serta memberi ruang klarifikasi, bukan menggiring situasi agar sekolah merasa terpojok.
“Kalau sejak awal yang dibicarakan justru soal dampak pemberitaan atau seolah-olah ada masalah besar, itu patut diwaspadai. Kepala sekolah jangan ragu untuk bersikap tenang dan meminta waktu,” ujarnya.
Herwanto juga memastikan, PWI Kota Tangerang membuka ruang koordinasi dan pengaduan bagi kepala sekolah yang merasa dirugikan oleh ulah oknum yang mengatasnamakan wartawan.
“Kami ingin profesi ini tetap terjaga. Kalau ada yang mencatut nama wartawan untuk kepentingan pribadi, silakan laporkan. Itu penting agar tidak merusak kepercayaan,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Walikota Tangerang Sachrudin menyambut baik langkah PWI dalam menjaga profesionalisme pers dan membangun hubungan yang sehat dengan dunia pendidikan.
“Pers memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dan mitra dunia pendidikan. Karena itu, profesionalisme harus dijaga agar tidak menimbulkan kegaduhan di lapangan,” ujar Sachrudin.
Ia menilai, keterbukaan informasi dan komunikasi yang baik akan mencegah kesalahpahaman antara sekolah dan wartawan.
“Kalau semua pihak menjalankan perannya dengan benar, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang penting komunikasinya jelas dan saling menghormati,” kata Sachrudin.
Sachrudin juga berharap persoalan oknum tidak membuat sekolah bersikap tertutup terhadap media. Menurutnya, pers tetap dibutuhkan untuk menyampaikan informasi pendidikan kepada masyarakat secara objektif.
“Dengan adanya komitmen dari PWI dan dukungan pemerintah daerah, diharapkan hubungan antara sekolah, insan pers, dan pemerintah Kota Tangerang dapat berjalan lebih proporsional dan profesional,” tutup Sachrudin. (Sudirman)












