ANGKET24.ID, JAKARTA — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan “pesantren besar” yang memiliki kekuatan tradisi keilmuan, moderasi beragama, serta peran strategis dalam menjaga kehidupan kebangsaan di Indonesia.
Penegasan tersebut disampaikan Menag saat memberikan Khutbah Syuriah pada peringatan Hari Lahir (Harlah) 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama (NU) dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
“Seratus tahun perjalanan NU bukan waktu yang singkat. Di usia itulah NU menunjukkan kematangannya sebagai organisasi. Saya ingin menegaskan bahwa sesungguhnya Nahdlatul Ulama adalah pesantren besar,” ujar Menag.
Menurut Menag, ruh pesantren yang melekat dalam NU membentuk tradisi keilmuan yang kuat, termasuk dialog dan perdebatan antarmazhab. Dinamika tersebut justru memperlihatkan kekayaan intelektual yang tumbuh di lingkungan pesantren.
“Diskusi keilmuan di pesantren terkadang berlangsung sangat intens. Namun, di situlah kita melihat kuatnya tradisi akademik dan budaya berpikir kritis yang diwariskan NU,” katanya.
Menag juga menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang sarat dinamika, tetapi tetap menjaga keharmonisan. Bahkan, kata dia, NU mampu merangkul berbagai kalangan untuk menjadi bagian dari perjuangan bersama.
“NU penuh dinamika, namun tetap menjadi keluarga yang sakinah. Orang luar pun dapat merasa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama,” ucapnya.
Dalam menghadapi tantangan masa depan, Menag mengingatkan bahwa perubahan global bergerak jauh lebih cepat dari kesiapan manusia. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai guncangan, mulai dari aspek teologis, kultural, hingga sosial dan ekonomi.
Karena itu, Menag mendorong NU untuk menyiapkan kepemimpinan berbasis kerja kolektif.
“Ke depan, NU perlu menekankan figur-figur manajer yang mengedepankan kerja tim, the power of we, bukan kerja individual,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan ideal adalah perpaduan antara pemimpin dan pengelola yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
“Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga manajer yang mampu mengelola umat dengan baik. Ini teladan yang relevan untuk NU,” ujarnya.
Menag juga menegaskan komitmen NU dalam mengusung prinsip moderasi beragama. Menurutnya, NU tidak pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak pernah membedakan sesuatu yang sama.
“Inilah esensi moderasi Nahdlatul Ulama. Biarkan yang sama tetap sama, dan yang berbeda tetap berbeda,” katanya.
Menutup sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat atas perjalanan panjang NU selama satu abad.
“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat kepada segenap warga Nahdlatul Ulama atas perjalanan 100 tahun pengabdian bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan peran NU dalam percaturan global, khususnya dalam isu kemanusiaan dan perdamaian dunia.
“NU memiliki posisi strategis di tengah masyarakat global. Karena itu, NU didorong untuk lebih aktif membangun komunikasi lintas pihak demi kontribusi nyata bagi kemanusiaan,” ujar Gus Yahya.
Ia juga menegaskan komitmen NU untuk terus mendukung berbagai upaya pemerintah yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan dan perdamaian bagi masyarakat.
“NU mendukung agenda-agenda pemerintah yang berpihak pada kebaikan dan kemaslahatan rakyat,” tuturnya.
Acara tersebut turut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, serta Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. (Red)












